RSS

5 cm rasa lembah Ramma


The Begining
 
Tiga minggu sebelum tanggal 20 September, itu gak tw juga tanggal berapa, malas hitung-hitung. Yang pastinya hari itu hari sabtu, kami anak-anak mandiri Cokro ada dalam mobilnya Hasni baru saja pulang dari pernikahannya fate dan si Pocky langsung nyeletuk.
 
“Din mwko ikut tanggal 20, mwki pergi semua ke lembah Ramma?”

Asal tahu saja, aku ini baru saja mutasi ke Makassar, dan dalam rangka mengakrabkan diri dengan orang kantor yang ada disini, aku berusaha untuk mengikuti semua kegiatan dan yang pasti semua kegiatannya asyik sih. Dan beginilah lanjutan percakapanku sama pocky.
 
“ihh liburan....mw mw. Sapa-sapa yang ikut?"

“yang ikut toh ceweknya, saya,kw Hasni, Indah, Ayu, Pak Agus, Pak Seno, Pak Andre, Osa”
 
TENG TONG!!!!
Nama-nama yang pocky sebut di atas itu adalah nama para petinggi-petinggi kami di kantor, gini lho maksudku.. kapan lagi coba liburan di luar kantor bareng atasan, pasti suasananya beda. Dan ada satu nama yang disebutkan pocky adalah idola aku di Mandiri, idola semua cewek sih sebenarnya. Sudah seribu lebih cowok Mandiri aku liat belum ada ngalahin cakepnya si Cowok ini, dan Apa Pocky bilang barusan tadi?? Dia juga ikut.. yuhhhhhuuuu ini mungkin akan jadi perjalanan yang menyenangkan.

Part I : Liburan yang bercabang dua

Nah seminggu sebelum tanggal 20 September, aku dan teman-teman di Mandiri Cokro bertemu lagi di acara Employee Gathering Mandiri, pulang dari sana aku menanyakan lagi kejelesan liburan ini sama Pocky dan dia masih bilang jadi kok... okeyy lah kalo gitu saya masih punya niat ikut, padahal di tanggal yang sama teman-teman kampus ngajakin ke Bara, pantai keren di Bulukumba yang juga belum pernah aku datangin.

Tapi tekadku sudah bulat memutuskan untuk pergi bareng teman kantor saja walaupun persiapannya lebih sulit dan memakan biaya daripada bawa diri ke Pantai doang dan tidak pake acara mendaki pula. First aku harus menyiapkan Tas ransel besar, sleeping bag, kaos tangan tebal, jaket tebal dan of course sepatu untuk mendaki. And for Your Info kesemuanya itu aku gak punya.  Beberapa alat bisa aku pinjam di teman dan beberapa lagi harus segera dibeli walaupun harganya yah gitu deh.... tapi mengeluarkan uang banyak gak masalah demi safetyku yang notabene baru saja pergi acara kayak ginian.
 
blom tau medan, muka masih ceria

Part II : And Here We Go

Salah satu hari Sabtu yang paling berharga dihidupku, aku sudah menyiapkan segalanya semalam, namun ternyata satu yang aku tidak siapkan. Yap ketahanan fisik. Harusnya minimal dua minggu sebelum berangkat, sering olahraga sepeti jogging dan juga naik turun tangga pun berguna, tapi masalah fisik aku cerita belakangan deh.

Cewek yang ikut jadinya Cuma aku dan Pocky, tapi itu tidak masalah selama cowok kece bernama Osa ikut. Hahaha kebetulan kami berdua adalah fans beratnya. Kami berkumpul di rumah pak Agus, saat aku dan Pocky tiba disana si Osa lagi berdiri semacam pemanasan ringan cocok banget jadi pembacawa acara semacam My trip My adventure... aduh ini kaki langsung runtuh kayak Marshmallow.. but FYI ngefans seru-seruan gitu doang kok, gak ada maksud apa-apa yahh si Doski juga udah mau nikah.

Kami berangkat menuju Malino jam 9 Pagi, di mobil kami bercerita jadi akrab, termasuk dengan pak Agus si Bos yang terkenal paling pedis kata-katanya kalo di kantor, aku gak nyangka ternyata pak Agus orangnya konyol banget. Sesampai di Malino udara sudah mulai dingin, dan menurut Pak Agus dan Osa di Lembah Ramma mungkin 3 – 4x lebih dingin. Kami membeli nasi bungkus di pasar Malino dan beberapa bahan makanan untuk diolah nantinya.
Sampailah kami di Dusun Lembanna, gerbang orang menuju pendakian Bawakaraeng, di desa ini banyak berjejeran rumah-rumah dan di halaman banyak mobil dan motor-motor parkir yang ternyata itu adalah kendaraan titipan para pendaki seperti kami.

Kami singgah di salah satu rumah yang ternyata tuan rumahnya sudah kenal baik sama Pak Agus dan Osa, dan baru tahu juga kalo Pak Agus dan Osa sudah menaklukkan gunung Bawakaraeng sebelumnya.. Osa juga sudah pernah sampai di puncak Bulusaraung dan tidak ketinggalan juga sudah pernah memegang bendera merah putih di puncak Mahameru. TUING TUING mataku dan Pocky semacam muncul bintang-bintang, makin keren aja nih cowok.

baru saja keluar dari Desa Lembanna


Tugu di Pos1    

BISMILLAH, kami melingkar dan Berdoa demi keselamatan kami bersama sampai di Lembah Ramma, kami mulai pendakian sekitar jam 12 siang, setelah singgah di rumah warga dan juga mengatur kembali isi ransel masing-masing, bawa yang perlu dan tinggalkan yang bikin sulit perjalanan. Tentu saja kami berfoto di papan pendakian gunung Bawakaraeng terlebih dahulu.
Saat baru beberapa meter meninggalkan desa kami disambut dengan Kebun warga yang begitu indah, ada air-air yang mengairi, segalanya begitu hijau dan sejuk. TRUTS ME bagiku yang Senin -Jumat cuman liat layar monitor penuh dengan angka-angka dan Sabtu Minggu hanya dihabiskan di Mall, pemandangan seperti ini merupakan harta yang sangat berharga.

Kami berjalan sungguh ceria, semua wajah bahagia dan penuh antusias, memasuki hutan Pinus jalan mulai agak mendaki. Pak Agus berpesan jangan terlalu banyak bicara dan mulai atur napas pelan-pelan. Okeyyy napasku masih baik-baik saja kok karena aku terlalu excited dengan perjalanan ini. Masuklah kami di hutan-hutan yang medannya menanjak sedikit demi sedikit, untung hari itu tidak ada hujan, jadi jalanan tidak ada yang licin.

Pos I (FYI : sampai di puncak Bawakaraeng ada 11 Pos), tibalah kami disana, jika ke kanan adalah menuju puncak Bawakaraeng dan jika ke kiri menuju lembah Ramma, setelah puas foto foto kami memutuskan berjalan setengah jam lagi sebelum istirahat siang untuk makan nasi bungkus yang telah kami beli di Pasar Malino tadi.

Lunch pertamaku di dalam hutan, dan gak nyangka saja itu bersama teman-teman dan atasan di kantor, hihihihi. Kami makan dengan cukup lahap, pak Agus kembali berpesan isi kembali energi karena setelah ini medan cukup Sulit, diputuskan aku dan Pocky akan selalu berada di depan dan para Expert macam pak Agus dan Osa dibelakang kami, oh ya tidak masalah kok kami paling depan, karena jalanan cukup jelas, ikuti saja jalan setapak dan tali warna-warni yang diikat para pendaki sebelumnya. mulai mirip 5cm yahhh.

Setelah memastikan sampah makanan kami telah padam dan terkubur baik dengan tanah, kami melanjutkan perjalanan. Medan menjadi cukup sulit, menanjak dan terus menanjak. Aku dan Pocky banyak berhenti-berhentinya untuk mengambil napas lagi dan minum hanya untuk sekedar basahin tenggorokan, Seriously nih paru-paru udah mau putus bekerja sangat berat, teman yang lainpun begitu, tapi tentu saja tidak terjadi dengan pak Agus dan Osa yang wajahnya masih saja ceria. Setiap berhenti dan berpapasan dengan Osa “ Gimana Din masih kuat?? Ayo semangat” Jreng Jreng kalo digituin lagi sama Osa tiba-tiba semacam Seuz mengirimkan tenaga Hercules padaku untuk kembali berjalan. Hahahaha Norak yah.

Sampailah kami di hutan Lumut, lebih gelap daripada hutan sebelumnya, udara menjadi agak lembab disini, kami berhenti sebentar untuk mengambil beberapa foto. Setelah hutan lumut ada anak sungai kecil kami lewati, di daerah ini banyak pendaki yang berhenti, dan ternyata  memang seperti yang aku baca di Novel 5 cm, tiap bertemu pendaki lain pasti kami saling menyapa dan permisi, itu sudah jadi semacam tradisi, bahkan ada yang sedikit mengobrol “Dari kampus mana kakak kakak?? “ begitu pertanyaan beberapa pendaki ke kami, dan selalu saja pak Agus yang menjawab, ini cewek dua orang dari Unhas, tapi itu 4 tahun lalu” hahahahahaha.

Pendakian kembali menjadi cukup terjal, aku menyangka paru –paruku sudah mau pecah, dan penderitaan belum berakhir...di depan ternyataaaaaaaaaa ada bukit penurunan and WHAT??? Itu adalah batu-batu besar dan terjal dengan kemiringan hampir 90° (baca-baca blog orang, konon tempat ini disebut bukit penyesalan karena di spot ini banyak pendaki pemula sadar kenapa mereka ada disini dan memutuskan mendaki). Aku berbicara sendiri dalam hati “ Oh God, bisakah aku turun?” Osa duluan turun dan menunggu kami di bawah.
HUPHTT Bismillah... aku mulai menuruni pelan-pelan batu terjal itu, ternyata memang memakai sarung tangan cukup berguna karena aku selalu menggunakan tanganku memegang batu untuk menjaga keseimbangan, tidak seperti Osa dan Pak Agus yang santai seperti turun tangga, aku dan Pocky kadang duduk, seret-seret pantat, dan ngesot untuk sampai ke bawah. Hampir 30 menit kami habiskan di bebatuan itu karena saling menunggu, no picutre in there karena kami sudah mulai lelah dan kamera sudah pensiun masuk ke tas.

Sampailah kami semua di bawah dan Pak Agus kembali memberi pujian untuk aku dan Pocky yang sudah melaluinya... tapi ternyata kenyataan di depan makin sulit, ayo semangat Dini......
Kembali memasuki hutan yang agak gelap banyak pohon tumbang menghalangi jalan dan tentu saja menanjak dan menanjak, bahkan di beberapa tempat aku dan Pocky harus dibantu untuk mencapai tempat yang lebih tinggi. Dan sekali lagi aku tegaskan, napasku mungkin hanyalah napas sisa-sisa dari tadi pagi... dan kaki dan lututku sudah mulai kalah.

Jam 5 sore kami sampai di suatu tempat semacam bukit Teletubbies (belakangan baru tahu kalau itu namanya puncak Tallung saat googling sepulang dari lembah Ramma) Wah tempatnya keren sekaliiii..... dan dari tempat itu kami bisa melihat pemandangan cukup indah dan tentu saja melihat puncak Gunung Bawakaraeng, ada bagian putih keabu-abuan seperti terpotong digigit naga bekas longsor beberapa tahun silam.

“WAHHHHH KERENNNYA, PAK AGUS CAPEKNYAAA TERBAYARRRRR, MAS OSAAAA THANKSSS SUDAH AJAKKKKK” begitulah Norakku sama Pocky teriak teriak, mengingat siksaan dari perjalanan kami tadi.

Sesi foto narsis dengan tongsis akhirnya dimulai, dan selesai berfoto aku kembali melihat pemandangan yang cukup indah ini, hal-hal seperti ini bikin aku makin ingat sama Tuhan. Aku melihat ke bawah, nun jauh di sana, di bawah sana entah di mana itu, ada beberapa tenda-tenda berdiri ditengah dataran hijau, ada sungai membelah, dan ada danau kecil di kejauhan. Wah jauh sekali orang-orang itu mendirikan tenda ucapku dalam hati, tapi memang cukup indah sih.


pemdangan dari puncak Tallung

Aku menghampiri Osa, yang lain masih sibuk berfoto. “jauh amat yah tuh orang orang itu kemping” aku menunjuk ke arah tenda tenda yang jauh di bawah sana “Mas Osa udah mau tenggelam matahari, kita kapan dirikan tenda nih” eh iya yah emang gitu saya ngomong sama Osa, dia kan bukan orang Makassar, jadi kalo bicara sama dia pake logat Jakarta gitu lho.
Osa melihatku, matanya memicing “ oh iya mari kita lanjut jalan supaya cepat dirikan tenda”
“ha? Bukan disini memangnya itu lembah Ramma? “ aku dengan begonya bertanya
“mana ada lembah Ramma di ketinggian begini? Namanya saja lembah” Osa hanya tersenyum.
“trus dimana?” mataku membulat dan perasaanku mulai tidak enak
Osa tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah tenda-tenda kecil itu sambil tersenyum sumringah.

THIS IS NOT THE END.

Bukan hanya aku saja ternyata, Pocky juga baru tahu kenyataan pahit ini, yah beginilah dua orang cewek sok sok ikut mendaki padahal gak ada basic pecinta alam sama sekali dan niat hanya seru-seruan doang. Setelah Osa dan pak Agus menyemangati kami dan memberi pencerahan layaknya Mario Teguh, aku dan Pocky dengan lunglai mengambil tas kami dan mulai berjalan lagi... hari sudah mau gelap dan turun ke bawah cukup terjal kemiringannya, ini adalah salah satu medan tersulit selain bukit penyesalan yang aku ceritakan di atas.

Osa dan Pak Agus memutuskan duluan karena ingin cepat mendirikan tenda sebelum magrib, tenang saja kami para cewek banyak yang menjaga, kami turun bersama mahasiwa dari Unhas dan ternyata ramai-ramai cukup membantu, ada beberapa jalan merupakan juga bebatuan yang dialiri air sungai dan kami harus berhati-hati karena licin.

Saat sampai di jalanan datar di bawah, tepatnya telah sampai di Lembah Ramma, aku dan Pocky bertatapan dan kami berdua serempak melihat ke puncak Tallung, tempat kami foto-foto tadi, untuk melihat ke atas kami harus mendongak tajam, artinya itu cukup jauh dan tinggi. Aku tahu apa yang kami berdua pikirkan, bukan keberhasilan kami yang hampir mustahil untuk sampai di bawah dengan selamat, tapi bagaimana nasib kami kami nantinya pulang mendaki jalan itu kembali.

Singkat cerita, sudah malam dan kami sudah nyaman duduk-duduk sambil mempersiapkan masakan kami, oh iya aku dan Pocky dipercaya untuk memasak telur dadar, sarden, mi dan nasi, dan kami kembali terkagum –kagum sama Osa karena alat masaknya cukup lengkap, betul-betul pendaki berpengalaman. Udara malam itu? Gak usah ditanya, kalian yang baca ini pergi saja ke depan freezer kulkas dan bayangkan angin bertiup kencang, yah begitulah udara di Lembah Ramma.. untung saja aku sudah siap dengan syal, sarung tangan, kupluk, serta sleeping Bag.

Part III : Jalan Pulang yang cukup sulit
Pagi hari kami bangun, udara masih saja dingin seperti malam harinya, aku dan Pocky membuka pintu tenda dengan wajah kucel, kebetulan si Osa juga membuka tendanya yang berhadapan dengan kami, dibelakang Osa itu ada background Puncak Bawakaraeng dan matahari sedang indah-indahnya terbit dari sana. Aku dan Pocky bertatapan dan serentak kami berucap “Wahhhh indahnya ciptaan Tuhan, sambil mata kami terkagum-kagum” Osa melihat ke belakangnnya, ke puncak Bawakaraeng dan tak lama berbalik ke kami “keren kan, makanya dong sering pergi kayak ginian “ ucapnya. Aku dan Pocky masuk kembali ke tenda dan ketawa terkikik, bego banget nih Osa, dikira kami mengagumi pemandangan, padahal mengagumi wajahnya yang makin keren aja yang bahkan cuci muka saja belum, mimpi apa kami berdua bisa lihat doski baru bangun dan masak bareng, di kantor saja cuman bisa berpapasan doang.

Perjalanan pulang pun dimulai, mukaku kembali tegang membayangkan medan terjal di depan, apalagi jalan ke Puncak Tallung dan batu-batu curam besar di depan sana yang cukup sulit aku lalui pas turun, apa kabar pas mau didaki sebentar, rasanya pengen nangis aja, boleh panggil Helikopter gak?

udah mau sampe puncak Tallung, perhatikan wajahku yg mulai gak enak

Setelah bersusah payah sampailah kami kembali di Puncak Tallung, lembah tempat kami menginap sudah jauh di bawah, Oh God kau masih menyayangiku, padahal waktu berangkat tadi aku sudah berpikir tidak mampu dan berniat bilang ke Pak Agus aku ingin bermalam semalam lagi terserah siapa yang mau nemenin, kalau boleh Osa Sih.

Penderitaan belum berakhir, dari Tallung ke tempat sungai bebatuan terjal yang aku ceritain di atas itu masih jauh banget, dan jalan bervariasi menurun serta menanjak, dengan lututku yang mulai cedera jalan penurunan lebih menyakitkan karena mengharuskan kakiku melipat saat menurun, uhh rasanya sakit dan nyeri sekali, tapi kalo pak Agus ato Osa tanya aku bilang aku masih cukup kuat agar mereka tidak khawatir, padahal mulai sedikit pincang.

Sampailah kami di sungai besar tempat batu-batu terjal itu berada (bukit penyesalan), disini kami memutuskan untuk istirahat makan dan memasak sebelum melalui medan terakhir yang paling berat, tapi dengan kondisi kakiku ini, menurutku semua medan sekarang terasa sangat berat. Saat istirahat aku memutuskan tidak makan, hanya konsen ke lututku. Kalian tahu bagaimana sakitnya? Sulit digambarkan, ngilu, nyeri, tapi ini bukan semacam keseleo, cedera, ato patah, ini karena kakiku tidak pernah bekerja seberat ini sebelumnya. Aku mulai memijit lututku dan Osa memberikan Salep serta minyak gosok. Saat teman-temanku yang lain masih makan, aku memutuskan akan jalan duluan saja daripada aku merepotkan dan ditunggu lama. Dengan modal keberanian aku pamit ke teman-teman, aku bernapas sebentar dan melihat batu-batu itu didepanku.

Aku mulai mendaki bukit penyesalan, aku sudah pasrah kalu aku terjatuh atau mungkin pingsan atau hal lain yang lebih parah, aku bersusah payah menyeimbangi badanku dengan ranselku, dan dengan keajaiban aku bisa sampai di atas, aku berteriak  “teman-teman aku duluan”

Setelah sejam berjalan, akhirnya ada pak Agus dan Osa yang menyusulku, tuh kan lihat saking lambatnya jalan aku sudah tersusul, tak lama semua temanku sudah menyusulku, aku memberikan ide agar mereka menungguku di hutan pinus saja.

Ternyata walau medan sudah agak datar, lututku sudah menyerah, aku semacam tidak mampu lagi berjalan, aku rasa-rasanya ingin menangis saja dan teringat orang tuaku di Palu serta keluarga lain di Makassar dan sekedar info semenjak meninggalkan hutan Pinus, sinyal hp sudah tidak ada. Tiap ada rombongan lewat, aku berpura-pura diam berdiri meneguk air agar mereka tidak melihat pincangku saat berjalan. Sampai di pos 1 aku sudah tidak kuat lagi, aku duduk di bebatuan, aku tidak memperhatikan ada cowok baju putih duduk juga disana, dilihat dari segi apapun dia masih lebih muda daripada aku, semacam mahasiswa semester tengah. Ia menegurku duluan.

“kenapa kak?”

“lututku kalah”

“pasti pertama ki mendaki toh”

Akhrinya setelah bercakap-cakap dia bersedia menemaniku turun ke bawah, Hutan pinus sudah terlihat di bawah. Kami berjalan, di beberapa penurunan ia harus memegangku karena untuk melipat kaki saja aku sudah tidak mampu. Setelah sejam akhirnya kami sampai di hutan Pinus, tepatnya di papan Peta rute pendakian. Aku melihat ada Pocky dan Adhy, mereka ternyata sudah lama menungguku, cowok itu pamit, katanya teman-temannya juga sudah dekat.

“mana yang Lain?” tanyaku pada mereka

“sudah duluan, kan mau antri mandi dan siap-siap supaya nda kemalaman ki sampai Makassar”

Kami bertiga turun dengan perlahan, mereka baru sadar juga kalau kakiku sudah sangat parah, mereka tidak menyadari waktu di atas karena aku tadi masih sok kuat.

“siapa tadi itu Din?” tanya Adhy

Astaga aku baru sadar aku bahkan tidak bertanya namanya siapa padahal dia sudah mau susah-usah menolongku, aku hanya tahu dia Mahasiswa UMI, hanya itu.
“nda tahu siapa, ketemuja tadi di Pos 1, duduk ki sendiri lagi tunggu juga teman-temannya”

“Dini, ko ingatkah waktu kita berangkat ada batu-batu Nisan kita lihat, itu pendaki-pendaki yang hilang tidak didapat” yah tentu saja aku ingat nisan-nisan itu, saat sendirian di hutan Lumut tadi aku sempat berpikir mungkin aku akan menjadi salah satunya.

Pocky ikut menyeletuk “ sendiri tadi ko lihat itu cowok? “ hhmm aku mengingat, aku duduk di batu bawah pohon dan dia duduk diseberangku.

Pocky dan Adhy berpikiran tidak-tidak, aku kembali mengingat saat di perjalanan tadi aku bercerita normal saja dengan cowok itu, Ia bahkan bertanya kami kelompok apa, aku jelaskan saja kami dari Bank Mandiri kebetulan punya hobby yang sama, beberapa pendaki melewati kami minta permisi lewat karena aku begitu lambat berjalan, hhmm rasa-rasanya normal saja kok, ah ada-ada saja Pocky dan Adhy ini, whatever, pokoknya aku cukup berterimakasih pada cowok itu karena membantuku bahkan memapahku di beberapa tempat, tapi namanya saja aku tak tahu, dan omong-omong berpisah di hutan pinus tadi dia kemana.

Singkat lagi, akhirnya kami sampai di rumah warga yang kami tumpangi saat berangkat. Osa, Pak Agus dan teman-teman lain telah selesai mandi dan sudah bersiap-siap, saat aku datang aku disuruh duduk dulu, Osa memeriksa kakiku sebentar. Aku rasa-rasanya ingin memeluk mereka satu per satu karena entah dengan keajaiban apa bisa juga aku sampai disini.

Aku memilih segera mandi dan membersihkan diri dan hhmm mungkin sedikit menyiksa diri karena airnya seperti es batu yang baru saja mencair, saat semua telah berkemas aku duduk minum teh hangat, Pak Agus menanyakan kondisiku, aku bilang aku baik-baik saja tapi sebenarnya aku sudah mau menangis, menangis terharu dengan perjuanganku untuk tetap hidup dan sampai dengan selamat.

Selepas magrib, kami bertolak ke Makassar, semua di mobil sudah terlelap termasuk aku, walau masih dengan nyut nyut dilututku. Aku menutup mata dan berpikir Terima kasih Tuhan kau baik sekali padaku, dua hari ini aku merasa mendapat keajaiban sungguh berharga. Pemandangan indah yang membuat kami semua lebih dekat padaMu, perjuangan, persahabatan dan pengalaman seru lainnya serta membuatku lebih menghargai hidup. 4 tahun kuliah dan selalu berniat kemping dan mendaki tak pernah terwujud, eh ini sudah kerja jadi orang kantoran, baru sebulan mutasi ke Makassar akhirnya terwujud juga sama orang-orang yang gak disangka lagi. Iya orang orang yang aku gak sangka.. aku tersenyum sambil melihat Pak Agus yang terlelap di depan, Pocky sibuk dengan hp nya di sebelah kananku, dan tentu saja Osa yang terkantuk kantuk yang selalu tidak sengaja menyentuh pundaku. Aku kembali tersenyum Kecil.

Salam kami dari Lembah Ramma


Epilog
Senin dan Selasa aku tidak masuk kantor, karena total gak bisa jalan sama sekali, dua hari aku dipanggilkan tukang urut, seminggu setelahnya pun jalanku masih belum agak normal, tapi semua kekacauan itu terbayar karena foto-foto di puncak, lagi kemping, dan tentu saja keakraban dengan Osa bikin Heboh sekantor di Palu dan Makassar, yahh apalagi kalo bukan karena si Osa kece sang idola itu bisa akrab bahkan sampai kemping dengan kami-kami. Hahahah haters, jeleouser, go to The Hell :p

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar